Selasa, 23 Agustus 2011

KEUNIKAN PURA KAYANGAN KEDATON

Pura dalem kahyangan kedaton merupakan pura peninggalan purbakala peninggalan jaman megalitikum yang lokasinya di tengah hutan alas kedaton, tepatnya di desa kukuh, kecamatan marga, tabanan. Pura yang konon didirikan pada tahun caka 1286atau 1.364 masehi ini memiliki banyak keunikan. Apa itu? Bila pada umumnya pura di bali memiliki pintu masuk tak lebih dari dua, pura dalem kahyangan kedaton justru memiliki empat pintu masuk yang terdapat di empat penjuru mata angin (nyatur desa) yakni barat, selatan, timur dan utara. Inilah keunikan yang dapat kita jumpai pertama.
Demikian pula kalau kita perhatikan posisi pelemahan pura. “makin ke utama mandala makin rendah. Justru mandala utama (jeroan dalem) posisinya paling rendah yang berbeda dengan posisi pelemahan pura di bali yakni makin ke utama mandala makin tinggi,” ujar jro mangku ketut sudira didampingi bendesa adat kukuh. Selain keunikan fisik, sarana upakara saat pujawali juga banyak keunikannya. Pada umumnya pura di bali sarana sembahyang berupa dupa dan kwangen, beda dengan pura dalem kahyangan kedaton. Bersembahyang di pura yang dikelilingi ribuan monyet dan ratusan kelelawar ini pantang menggunakan dupa dan kwangen. Demikian pula dengan penggunaan penjor. “saat karya ataupun pujawali di pura dalem kahyangan kedaton kita tidak akan jumpai penjor sebagaimana lazimnya karya atau pujawali di bali. Ini juga merupakan sesuatu yang unik,” sebutnya. Demikian halnya dengan penggunaan ceniga, di pura dalem kahyangan kedaton tidak menggunakan ceniga mereringgitan, cukup pakai ceniga yang hanya terbuat dari daun pisang mas. Penggunaan jaja begina warna merah juga tidak diperbolehkan di pura ini.Jika ditanya keunikan lain, di pura dalem kahyangan kedaton masih dapat kita jumpai yang berbau unik. Di mandala utama atau jeroan pura, para pemangku di sana saat mereresik (bersih-bersih) tidak menggunakan sapu lidi, melainkan menggunakan sapu yang terbuat dari ranting-ranting pohon. Rangkaian pujawali harus sudah selesai sebelum matahari terbenam, pasalnya di mandala utama tidak diperkenankan menggunakan sunar (lampu) karena berpantang menggunakan sarana api. Saat rangkaian upacara selesai diiringi dengan tradisi ngerebeg, yakni berlari dengan menggunakan sarana seperti tumbak, lelontek, tedung, atau dengan sarana-sarana terdekat seperti ranting yang berisi daun. Semua bersorak gembira untuk mengikuti tradisi ngerebeg. Piodalan di pura ini jatuh pada anggara kasih medangsia atau 10 hari setelah hari raya kuningan.Sebagai bentuk bangunan purbakala, di pura ini banyak terdapat peninggalan sejarah dari jaman megalitikum. Dipura ini banyak ditemukan tempat pemujaan yang berasal dari batu berupa menhir. Menhir ditemukan di jaba tengah sebanyak dua buah yang kemudian disebut sebagai pelinggih ancangan dan pelinggih pengawal. Selain itu juga ditemukan banyak arca dari batu. Diantaranya arca dewi durga, arca ganesha yang dililit dua ekor naga yang juga melambangkan angka tahun pembuatan pura yakni tahun caka 1286atau 1.364 masehi. Selain itu juga terdapat lingga yoni lambang kesuburan. Dipercaya oleh masyarakat du pura dalem kahyangan kedaton berstana ida bhatara tri murti yakni brahma, wisnu, dan siwa. Dimana pada meru dalem yang posisinya di bagian utara dipercaya stana dewa brahma. Dalem tengah terdapat lingga yoni lambang kesuburan yakni wisnu. Di meru dalem paling selatan terdapat archa ganesha dan arca dewi durga yang merupakan sakti dewa siwa. Berdasarkan arca inilah diyakini ida sang hyang widhi dalam wujud tri murti berstana di pura ini.Disamping keunikan yang dimiliki keberadan pura kahyangan dalem kedaton merupkan bagian dari peradaban hindu yang berasal dari jaman megalitikum yang bisa dilihat dari bentuk banguan pura dan banyak menhir dan arca yang ditemukan. Bahkan kini pura yang berada diareal hutan kedaton ( alas keadotn) seluas 6,4 hektar ini merupakan bagian dari situs kepurbakalaan. Terkait keberadaan pura ini, menutu mantan bendesa pekraman kukuh igm purnayasa, pihaknya mencoba memberikan pemahaman kepada semua warga dan pengunjung apa dan bagaimana pura kahyangan dalem kedaton ini. Untuk itu pihaknya telah membuat sebuah buku tentang pura tersebut dalam dua bahasa yakni bahasa indonesia dan bahasa inggris. “lewat buku iytu pengunjung masupun masyarakat akan mengenai mengenai keberadaan pura serta tradisi yang ada di pura yang disungsung warga desa pakraman kukuh, marga ini.
Pura beji jadi tempat meditasi
Selain pura utama yakni pura dalem kahyangan kedaton yang terdapat tepat di tengah hutan, di lokasi ini juga masih kita jumpai sebuah pura lagi, yakni pura beji kahyangan. Lokasinya ada di bawah setra (kuburan) kera dan di sisi sungai yeh ge di sebelah timur laut hutan kedaton. Sungai yeh ge juga sebagai pembatas alam desa kukuh dengan desa beringkit marga dan desa adat senapahan, desa banjar anyar, kediri. Pura beji kahyangan dipercaya tempat bagus untuk meditasi. Pasalnya dekat sumber mata air dan situasinya ning tenang membuat hati damai.Untuk menuju pura beji kahyangan, kita mesti berjalan sekitar tiga kilometer. Sebelum sampai di pura beji kita akan menjumpai kuburan kera (sema bojog) yang aneh bin ajaib. Setelah melewati kuburan kera baru, sekitar 300 meter ke arah selatan kita akan menjumpai jalan setapak. Jalan inilah yang mengantarkan kita ke pura beji kahyangan kdaton. Saat memasuki pura beji, aura ning magis sudah mulai terasa. Seakan rencangan ida bhatara yang berstana di pura ini telah menyambut kita. Jika kita sensitif, sentuhan alus akan kita rasakan, yakni bulu kuduk mulai berdiri. Tidak hanya itu bulu tanganpun berdiri, mungkin karena perasaan takut sebab pura ini sepi atau memang kita telah disambut. Pintu masuk pura beji menghadap ke laut (selatan). Terdapat dua bangunan, yakni piyasan dan padmasana.Menurut cerita beberapa warga setempat, konon para balian sakti sering bertapa di pura ini untuk mendapatkan ke-sidhi-an (kesaktian). Tidak hanya para balian, konon juga ada seorang penjudi nekat bertapa untuk nunas nomor buntut. Tapi belum sampai pada keinginannya, penjudi itu lari tunggang langgang karena ketakutan sebab melihat sesosok bayangan kera putih besar menyelinap di antara rimbunnya pohon hutan kedaton. Tapi jika memang tujuan kita suci memohon petunjuk ida sang hyang widhi, maka anugerahlah yang akan kita dapati disini.Para pekerja pencari pasir di yeh ge menuturkan, setiap harinya melihat bekas sarana-sarana sembahyang di lokasi pura. Mereka meyakini para bhakta (pemuja tuhan) itu datang nangkil ke pura pada malam hari. Banyak juga diantara mereka yang memohon sesuatu di pura ini keinginannya terwujud. Hal itu ditandai dengan bekas sembahyang membayar kaul. Jangan tanya kepada pemangku pura dalem kahyangan kedaton tentang ramainya para bhakta ke pura ini. Dijamin mereka tidak tahu, sebab para bhakta itu datang sendiri tanpa pernah ngaturang pejati ke pemangku.Di pura beji terdapat sumber mata air suci. Setiap piodalan di pura dalem kahyangan kedaton, arca dan pratima yang ada di pura disunggi ke pura beji untuk disucikan. Di bawah pura beji terdapat dua buah pancuran. Pancuran ini juga kerap dimanfaatkan oleh penduduk untuk mandi. Bahkan ada kepercayaan jika siswa yang keramas di pancuran ini otaknya menjadi cerdas, tentunya harus diimbangi dengan rajin belajar. Di kawasan pura beji terkenal angker dan sebagai istana wong samar. Rumah-rumah mewah milik wong samar itu konon katanya berderet di sepanjang sungai yeh ge yang membentang dari utara ke selatan. “itu memang mitos yang banyak kami dapat dari keberadan pura beji ini, namun banyak yang percaya,” pungkasnya.
misteri sema bojog tanpa gundukan
tabanan– alas kedaton merupkan salah satu obyek wisata yang sangat terkenal di bali. Selian kebradan pura kahyangandalem kedaton di lokasi ini juga ditenmukna banyak kera (bojog) dan kalong. Keberadaan kera di lokasi ini memang lebih jinak bila dibandingkan dengan kera di obyek wsiat lainnya. Tidak salah kemudian pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan monyet yang ada.Namun yang akan dibahas bukan keberadan monyet tersebut, tetapi sisi unik dari monyet atau bojog itu sendiri. Warags ekitar belum pernah melihat ada bangkai monytet atau kera di sekitar areal pura di atas tanah. Hal inilah yang menyimpan sebuah mitseri. Satuhal yang belum terungkap adalah misteri kuburan monyetatau sema bojog. Kuburan pada umumnya ada bekas galian atau gundukan saat menanam mayat, berbeda 180 derajat di sema bojog. Aneh bin ajaib, di kuburan ini tidak akan kita jumpai bekas galian dan gundukan, melainkan tanpa bekas. Aneh. Salah seorang sumber pak satria mengatakan, misteri sema bojog memang belum terungkap sejak lama. Dia mengaku pernah mendengar cerita dari almarhum kakeknya yang mondok di pinggir alas kedaton. Dikatakan, penguburan kera sama sekali tidak terlihat. Demikian pula dia pernah mendengar tutur dari kakeknya yang juga pemangku tertua di pura tersebut tidak pernah melihat bangkai kera itu dikubur. Semua misteri itu menjadi tanda tanya. Namun dia juga mendengar bahwa salah seorang warga yang berprofesi sebagai balian pernah mengintip pasukan kera itu mengubur temannya. Prosesinya sama seperti penguburan manusia. Yakni bangkai kera itu digotong, suara kera berisik ibarat tetabuhan beleganjur. Namun sayang saat bangkai kera itu dikubur, raja kera mengendus bau manusia. Bangkai itupun dibiarkan tergeletak di atas rumput setra. Pasukan kera itu lari meninggalkan tempat. Saat balian itu pulang, kemungkinan kera itu mengubur bangkai. Anehnya, saat balian itu kembali ke sana, tidak melihat ada bekas galian atau cakaran kuku kera untuk mengubur temannya. Gundukan pun tak ada kecuali, tanah itu menjadi cekung tanpa bekas tanda bangkai kera itu telah ditanam. “di kuburan kera ini memang aneh. Mestinya usai dikubur ada bekas gundukan, tapi disini beda, yakni tanah menjadi cekung. Inilah yang dipercaya sebagai bekas bahwa bangkai monyet telah dikubur,” kata pemuda yang bekerja di kantor desa setempat ini. Di tengah misteri tentang keberadaan sema bojog , keberadaan kera atau monyet di alas kedaton memang menjadi daya tarik tersendiri. Wisatwan baik nusantara maupun mancanegara sangat teratrikdengan keberadaan monyet tersebut. Pasalnya keberadaan monyet tersebut tidak nakal seperti di obyek serupa di tempat lain. Hanya dengan berbekal kacang atau ketela para pengunjung dapat berinteraksi dengan aman dengan para monyet tersebut. Bahkan mereka bisa berfoto. Kalaupun ada monyet yang marah atau nakal, beberapa orang warega yang dinggap pawing memang sudah berjaga di sekitar lokasi untuk menjinakkannya. Selain itu para pengunjung juga dapat melihat keberadaan kalong raksasa yang memang tinggal di hutan yang memiliki keterkaitan dengan kerajaan mengwi, badung ini. Bahkan untuk menambah daya tarik pengelola juga menyiapkan beberapa kalong yang bisa diajak untuk berfoto bersama.Di pinggir hutan kedaton akan kita jumpai ratusan warung yang menjual barang-barang kesenian hasil buah tangan putra daerah. Ada 202 kios yang mengadu nasib yang tergabung dalam kelompok pedagang alas kedaton (kpak). Para pedagang yang tergabung dalam kpak memiliki nomor antre untuk mengantar tamu yang datang. Merekalah yang menjadi pemandu lokal atas kedatangan para wisatawan. Setelah wisatawan itu diantar, para pemandu lokal ini bisanya mengajak tamu itu singgah ke warungnya untuk sekedar membeli cindera mata. Kunjungan wisatawan membludak saat sore hari, dan puncak pengunjung paling ramai saat hari-hari besar keagamaan seperti galungan dan kuningan, idul fitri, natal, waisak dan tahun baru.made putra sedana salah seorang pemilik kios di alas kedaton mengatakan kunjungan ke obyek tersebut sangat ramai. Hanya saja para wisatawan jarang ada yang mau berbelanja. “rejeki itu tidak bisa ditebak, ramai jumlah kunjungan tapi tidak dibarengi dengan minat belanja para pelancong. Mereka seakan kekurangan waktu plesir di daerah ini. Tapi saat hari besar keagamaan rejeki lumayan lancar walau jumlah laba tak sebanding jualan dengan turis,” ujarnya. Jenis dagangan di tempat ini kata putra sedana seragam yakni baju kaos dan aneka patung. Hanya ada dua toko yang menjual barang dagangan seperti lukisan, sisanya seragam. Selain menjual suvernir, di areal obyek wisata alas kedaton juga kita jumpai para perajin pelukis telur. Yakni melukis di atas kulit telor. Jika tamu ramai mereka juga kerap banting setir sebagai tukang tattoo temporary. Hasil dari tatoo ini lumayan bagus apalagi saat liburan sekolah atau saat libur besar idul fitri seperti sekarang ini. “ya...kita harus lihai membidik peluang dollar. Saat boomingwisatawan nusantara, gemerincing rupiah mengalir dari jasa tattootemporary,” ujarnya sambil tertawa. Namun ada hal yang juag tidak boleh dilupakan jika berkunjung ke alas kedaton. Bagi mereka para penikmat kuliner, maka tidak salah kemudian untuk mencicipi bubur alas kedaton yang memang sangat lezat (maknyus). Tidak sulit untuk menemukan para pedagang bubur yang memiliki rasa yang sangt khas ini. Begitu masuk arela alas keadaton sebelum gaopura utara di sebelah utara jalan akan ditemui sebuah warung yang memang khusus menyediakan makanan khas tersebut. Namun kalau ingin dapat merasakan kelezatan bubur ayam di sana hendaknya datang sebelum tengah hari. Kalau sampai lewat dipastikan buburnya sudah habis karena memang laku keras.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar