Selasa, 23 Agustus 2011

KEUNIKAN PURA DANU

Tak banyak yang mengenal keunikan pura danu yang berlokasi di banjar lodalang, desa kukuh, kecamatan marga, kabupaten tabanan. Pura kecil, termasuk pura pamaksan, itu berada di tepi sungai yeh dati, perbatasan desa kukuh dengan desa tegal jadi, marga. Pemedek yang hendak bersembahyang ke pura tersebut harus menuruni anak tangga yang berjumlah puluhan.

Suasana tenang akan menyapa pemedek saat tiba di pelataran pura. Gemericik air di pancuran dan kecupak air memecah batu menjadi simfoni keindahan menuntun kedekatan dengan hyang kuasa. Musik alam tersebut terasa meniti rasa pirasa untuk bersuntuk dan tepekur dalam doa. Alam di sekitar pura danu masih alami. Tegalan penduduk yang masih belukar menambah keangkeran sekaligus keagungan pura.
Hanya ada tiga palinggih di pura danu. Pelinggih berbentuk padmasari yang diyakini stana dewa wisnu, manifestasi ida sang hyang widhi sebagai uppeti (pemelihara makhluk hidup). Dewa kesuburan untuk umat manusia dan alam lingkungannnya. Padmasari itu menutut petugas purbakala bali yang pernah ke sana mengatakan termasuk padma kuno dan langka. Bentuk padmasana seperti itu kata petugas purbakala yang namanya tak diingat itu hanya ada dua di bali. Satu di pura batur, kintamani, bangli dan satunya lagi terdapat di pura danu, lodalang. Namun petugas purbakala itu tak bisa memberikan keterangan pasti angka tahun jenis padmasana seperti itu. “menurut petugas purbakala yang pernah ke sini, padamasana dengan arsitektur seperti itu dikatakan termasuk langka,” ucap kelian maksan, i made gara.
Selain padmasari kuno, masih ada palinggih purba lainnya berbentuk binatang. Palinggih itu menyerupai kodok. Penyarikan pura, i ketut cager memperkirakan, di palinggih tersebut berstana rencang ida bhatara hyang wisnu yang ditugaskan sebagai penyebar kesuburan. “tak ada lelintihan (sejarah) yang kami warisi dari tetua tentang keberadaan pura ini. Maka jawaban yang bisa kami sampaikan berdasarkan rasa dan perkiraan,” tandasnya, seraya mengatakan, piodalan di pura danu bertepatan pada anggara kasih prangbakat .
Selain dua padma purba tersebut, masih ada padma sari, sebagai padma utama. Pratima yang disimpan di padmasari tersebut berupa macan bersayap, yang dipercayai sebagai perwujudkan hyang wisnu. Menurut gara dan cager, perbaikan atau renovasi di pura ini hanya pernah berlangsung sekali pada tahun 2001. Bangunan yang direnovasi adalah padma utama. Sementara dua padma purba itu belum terjamah renovasi karena kondisinya masih bagus dan kuat.
Piodalan di pura ini yang bertepatan dengan anggara kasih prangbakat diharapkan selesai sebelum matahari terbenam, sama seperti saat piodalan di pura dalem alas kedaton. Menurut gara dan cager, ritual itu diharapkan selesai sebelum matahari terbenam karena tak ada aliran listrik di pura tersebut. “maklum lokasinya jauh dari pemukiman. Kalau pun kami paksakan hingga malam, kasihan pula jero mangku yang harus menaiki anak tangga dalam kondisi gelap,” jelas gara.
Selain keunikan tanpa peneranan lampu, pura ini juga tak memiliki penyengker atau tembok pembatas. Pura ini berpenyengker alam. Sisi timur merupakan tebing dalam, sisi utara dan selatan tegalan yang masih pepohonannya hijau dan besar. Serta sisi barat, sungai yeh dati yang dipercayai sebagai istana wong samar.
Sistem perekrutan pemaksan yang diterapkan tetua pun imbuh ketut cager sedikit unik. Hingga sekarang jumlah pengempon sebanyak 51 kepala keluarga dari empat banjar adat yang ada di desa kukuh. Mereka dulunya rela menjadi pemaksan karena meminta kesembuhan di pura tersebut. “banyak yang datang memohon kesembuhan, setelah doa mereka terkabul, mereka pun bayar kaul siap menjadi pemaksan,” jelas pemangku pura danu wayan regog. Sementara bangunan pendukung selain, tiga padmasana yaitu satu bale paruman dan satu bale gong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar